{"id":27,"date":"2023-09-14T23:19:00","date_gmt":"2023-09-14T23:19:00","guid":{"rendered":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/?p=27"},"modified":"2023-09-17T23:20:07","modified_gmt":"2023-09-17T23:20:07","slug":"22-pengajuan-penghentian-penuntutan-berdasarkan-restorative-justice-disetujui-oleh-jam-pidum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/index.php\/2023\/09\/14\/22-pengajuan-penghentian-penuntutan-berdasarkan-restorative-justice-disetujui-oleh-jam-pidum\/","title":{"rendered":"22 Pengajuan Penghentian\u00a0Penuntutan Berdasarkan Restorative Justice\u00a0Disetujui oleh\u00a0JAM-Pidum"},"content":{"rendered":"\n<p>Jaksa Agung RI kembali melakukan&nbsp;penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (JAM-Pidum) Dr. Fadil Zumhana. Dimana&nbsp;penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif yang telah disetujui pada hari Kamis(14\/09\/2023), sebanyak 22 permohonan&nbsp;penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif.<\/p>\n\n\n\n<p>JAM Pidum menjelaskan bahwasannya 22 permohonan&nbsp;penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif dengan&nbsp;Tersangka yang terlibat didalamnya yaitu diantaranya:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Muhammad Yasin alias Yasin&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Tabanan, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Irwanda Prawira bin Kasirin&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Tengah, yang disangka melanggar Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang RI Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Romi Jepisa alias Romi bin Suhairi&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Kuantan Singingi, yang disangka melanggar Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka<strong>&nbsp;Bakri Biki, S.Pdi. alias Katengah&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Pohuwato, yang disangka melanggar 335 Ayat (1) KUHP tentang Pengancaman.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Nunu Ahmad alias Nunu&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Bone Bolango, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (2) KUHP&nbsp;<em>Subsider&nbsp;<\/em>Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Hais Arascia bin Julianto&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Surabaya, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>M. Jaenuri alias Jen bin Kasri&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Surabaya, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Muhammad Sholihin, S. E. bin (Alm.) Bachri&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Surabaya, yang disangka melanggar Pasal 379a KUHP Jo. Pasal 65 Ayat (1) KUHP atau Pasal 378 KUHP tentang Penipuan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Hoirul Anam bin Hanafi&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Tanjung Perak, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Muriyanto bin (Alm) Kardi&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Tanjung Perak, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Novri Setiawan bin Moch Yunus&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Tanjung Perak, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Gitfirus Syarif bin Abdurrahman&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Sumenep, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Sutrisno bin Sahawi&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Sumenep, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka<strong>&nbsp;<\/strong><strong>Akmat Guwan Fidiarto&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Gresik, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Ahmad Khulafaur Rosidin&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Sidoarjo, yang disangka melanggar Pasal 351 Ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Eko Sujianto bin Jari&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Trenggalek, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Hilman Rasid bin Sugian&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Barito Timur, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian Jo. Pasal 363 Ayat (1) ke-3 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan.<\/li>\n\n\n\n<li><a>Tersangka<\/a>&nbsp;<strong>Yusef Triyo Anggodo alias Yusef bin Sukirman&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Barito Timur, yang disangka melanggar Pasal 335 Ayat (1) ke-1 KUHP tentang Pengancaman.<strong><\/strong><\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Abdul Hakim bin Samsul Bahri&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Kapuas, yang disangka melanggar Pasal 362 KUHP tentang Pencurian.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Tasri Soumokil alias Tasri&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Seram Bagian Timur, yang disangka melanggar Pasal 80 Ayat (1) Jo. Pasal 76C Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2002 diubah menjadi Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Ilham Almunawar bin Ariyanto&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Lubuk Linggau, yang disangka melanggar Pasal 44 Ayat (4) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka&nbsp;<strong>Aditya Zulkarnain bin Iskandar Zulkarnain&nbsp;<\/strong>dari Kejaksaan Negeri Ogan Komering Ulu Timur, yang disangka melanggar Pasal 480 ke-1 KUHP tentang Penadahan.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>&#8220;Selanjutnya, saya memerintahkan kepada Para Kepala Kejaksaan Negeri untuk menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2) Berdasarkan Keadilan Restoratif sesuai&nbsp;<strong>Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 dan<\/strong>&nbsp;<strong>Surat Edaran JAM-Pidum Nomor: 01\/E\/EJP\/02\/2022&nbsp;<\/strong>tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum.&#8221;, jelas&nbsp;JAM-Pidum.&nbsp;Kamis(14\/09)<\/p>\n\n\n\n<p>JAM-Pidum juga menjelaskan terkait dengan alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini yaitu antara lain:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Telah dilaksanakan proses perdamaian dimana Tersangka telah meminta maaf dan korban sudah memberikan permohonan maaf;<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka belum pernah dihukum;<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka baru pertama kali melakukan perbuatan pidana;<\/li>\n\n\n\n<li>Ancaman pidana denda atau penjara tidak lebih dari 5 (lima) tahun;<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka berjanji tidak akan lagi mengulangi perbuatannya;<\/li>\n\n\n\n<li>Proses perdamaian dilakukan secara sukarela dengan musyawarah untuk mufakat, tanpa tekanan, paksaan, dan intimidasi;<\/li>\n\n\n\n<li>Tersangka dan korban setuju untuk tidak melanjutkan permasalahan ke persidangan karena tidak akan membawa manfaat yang lebih besar;<\/li>\n\n\n\n<li>Pertimbangan sosiologis;<\/li>\n\n\n\n<li>Masyarakat merespon positif.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jaksa Agung RI kembali melakukan&nbsp;penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif melalui Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (JAM-Pidum) Dr. Fadil Zumhana. Dimana&nbsp;penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif yang telah disetujui pada hari Kamis(14\/09\/2023), sebanyak 22 permohonan&nbsp;penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif. JAM Pidum menjelaskan bahwasannya 22 permohonan&nbsp;penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif dengan&nbsp;Tersangka yang terlibat didalamnya yaitu diantaranya: &#8220;Selanjutnya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-27","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/be1ac0dca169f84c8e5f8410170f1528.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=27"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29,"href":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/27\/revisions\/29"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/28"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=27"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=27"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kejari-pulautaliabu.kejaksaan.go.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=27"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}